Retorika Kota

Welcome friends  Mohammad Nizam Mustaqim’s Blog. In this blog you will get some informations about :
my favorite writing for Retorika Kota | Retorika Kota I believe | Retorika Kota can give you inspiration and more others benefit



            Beberapa waktu lalu, ada seorang mahasiswa yang menulis bahwa selain ada 3 R (reduce, reuse, recycle), ada juga R satu lagi, yaitu regenerasi. Namun, sebenarnya ada satu R lagi yang paling penting untuk diperhatikan. R ini adalah retorika. Mengapa dikatakan retorika?. Urbanisasi kota tidak akan terjadi kalau tidak ada retorika yang membius orang-orang desa untuk berbondong ke kota. Retorika didefinisikan sebagai rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo). Intinya terletak pada rayuan yang terkesan manipulatif dan mengada-ada. Tipu daya yang menceritakan kompetitifnya kehidupan kota inilah yang telah membuat tak kurang dari 50.000 orang tiap tahunnya untuk hijrah ke kota terutama Jakarta. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, angka urbanisasi berturut setiap tahunnya yaitu 124.427 orang (2006), 109.627 orang (2007), 88.473 orang (2008), 69.554 orang (2009), 59. 215 orang (2010) dan 51.875 orang (2011). Meski, melihat trend-nya yang menurun tetapi kita harus tetap perhatikan bahwa mayoritas dari kaum urban ini adalah petani di desanya.
            Pertanian yang semakin terpuruk bukan hanya karena kondisi lahan dan alam yang memburuk. Melainkan efek domino dari urbanisasi juga menjadi salah satu penyebabnya. Pertanian Indonesia dinilai kurang menjanjikan bila dibandingkan pekerjaan di kota. Padahal, petani pun akan lebih sejahtera jika dapat mengelola pertanian mereka dengan baik. Oleh karenanya diperlukan suatu sinergisitas antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat agar tidak terjadi eksodus penduduk khususnya petani yang berlebihan ke kota. Otonomi daerah yang selama ini berjalan perlu ditingkatkan kembali efektif dan efisiensi pelaksanaannya untuk lebih mengembangkan potensi daerah masing-masing. Petani harus tetap mengurus ladang kehidupannya di desa karena pangan Indonesia sangat bergantung pada pertanian. Kalau tidak segera diatasi masalah pangan ini, bukan tidak mungkin kelaparan akan terjadi dimana-mana. Ironisnya, mayoritas kaum urban yang berharap mendapatkan penghidupan yang baik, malah menjadi kaum marjinal di kota besar. Ayolah petani, kalian harapan pangan Indonesia. Mari bersama mengurus pangan karena pangan adalah urusan HIDUP atau MATI.



We have been providing the best information about Retorika Kota For you. If you liked this information, please tell your friends on Facebook, Twitter, Pinterest, Google plus or Email using social buttons below. Happy Reading ^_^. Mohammad Nizam Mustaqim

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Desain Kemasan

ESAI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Penantian Berharga Pasca Kampus #KesempatanKedua