Loading...

Kamis, 04 Oktober 2012

SISTEM PERTANIAN TERPADU


INTEGRASI PERTANIAN, PERKEBUNAN DAN PETERNAKAN DALAM MEWUJUDKAN DUNIA PERTANIAN YANG TANGGUH

PERTANIAN TERPADU
Dunia pertanian (perkebunan, pertanian tanaman pangan, peternakan) merupakan usaha yang mampu memberi nilai ekonomis dan meningkatkan kemantapan swasembada produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.  Pelaksanaan usaha pertanian saat ini kebanyakan masih dilaksanakan secara parsial sehingga eksplorasi usaha yang dapat saling mendukung tidak dapat optimal.  Pelaksanaan usaha pertanian yang saling terintegrasi akan menciptakan suatu konsep usaha yang akan saling melengkapi dan meniadakan limbah pertanian yang biasanya terjadi.
Pola pertanian terpadu sendiri merupakan suatu pola yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian yang dikelola secara terpadu, berorientasi ekologis sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi. 
Melalui pertanian terpadu, akan dapat dihasilkan produk-produk pertanian, perkebunan dan peternakan melalui sinergitas antar unit dengan mengedepankan kelestarian lingkungan yang selanjutnya akan menghasilkan peningkatan secara ekonomis karena penambahan nilai daya dan guna melalui efisiensi dan efektifitas tinggi serta nilai produktifitas usaha yang baik.

Konsep LEISA (Low Eksternal Input Sustainable Agriculture) merupakan penyangga pola pertanian terpadu.  Konsep LEISA yang dilaksanakan akan melahirkan manfaat dan keuntungan, yaitu :
  • Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Lokal
  • Maksimalisasi Daur Ulang (Zero Waste)
  • Minimalisasi Kerusakan Lingkungan (Ramah Lingkungan)
  • Diversifikasi Usaha
  • Pencapaian Tingkat Produksi Yang Stabil Dan Memadai Dalam Jangka Panjang
  • Menciptakan Kemandirian
Konsep LEISA yang mengedepankan pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bahan baku pola pertanian terpadu akan menjaga kelestarian usaha pertanian sehingga tetap eksis dan memiliki nilai efektifitas, efisiensi serta produktifitas yang tinggi.  Dalam konsep ini dikedepankan dua hal : pertama, mengubah limbah pertanian menjadi pakan ternak dan kedua, mengubah limbah peternakan menjadi pupuk organik.
USAHA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

Merupakan suatu sistem bercocok tanam untuk menghasilkan produk pangan bagi kebutuhan masyarakat.  Selama ini banyak pelaku usaha di bidang pertanian dan perkebunan yang hanya berorientasi pada produk utama semata.  Padahal, hasil samping usaha pertanian dan perkebunan, berupa sisa panen dapat diubah menjadi pakan ternak yang mampu menyediakan nutrisi bermanfaat bagi ternak (khususnya ruminansia).
Pertanian tanaman pangan, padi misalnya, akan menghasilkan beras sebagai sumber pangan pokok bagi masyarakat.  Selain itu diperoleh pula hasil samping yang dapat digunakan sebagai pakan ternak, yaitu bekatul dan jerami padi.
Perkebunan Kelapa Sawit akan menghasilkan hasil samping yang potensial bagi perkebunan dan peternakan, disamping produk utama perkebunan kelapa sawit.
Perkebunan kakao akan menghasilkan biji kakao sebagai bahan baku pembuatan bubuk cokelat serta hasil ikutan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak, yaitu kulit buah.
Perkebunan kelapa hibrida yang akan menghasilkan santan kelapa dan minyak kelapa untuk pangan manusia.  Juga ampas kelapa, bungkil kelapa sebagai pakan ternak dan serat buah kelapa untuk industri.
Bila hasil samping usaha pertanian dan perkebunan tidak termanfaatkan secara baik akan menghadapi kendala :
  • penyediaan sumber unsur hara untuk lahan (tanah yang tidak fertil)
  • pertumbuhan tanaman yang kurang sehat akibat unsur hara yang berkurang
  • perawatan (maintenance) untuk pertumbuhan tanaman memerlukan biaya yang tidak sedikit
  • permasalahan limbah yang semakin lama semakin menumpuk sehingga menjadi sarang hama dan penyakit lalu akan menyerang buah yang siap panen.
USAHA PETERNAKAN
 Sapi potong merupakan salah satu jenis ternak yang berperan dalam melakukan supply untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani asal daging.  Pengelolaan yang baik dengan pola manajerial yang sempurna akan menghasilkan kinerja ternak potong yang ideal sehingga diperoleh hasil baik.  Hasil yang baik akan memberi banyak keuntungan, pertama : pemenuhan supply protein hewani asal daging; kedua : pembukaan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar farm; ketiga : peningkatan nilai penggunaan lahan-lahan pertanian marjinal sehingga memberi nilai guna pada lahan secara positif; keempat : peningkatan kualitas lahan seiring dengan introdusir penggunaan kompos (by product usaha peternakan); kelima : peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang mengikuti peningkatan income pengusaha atas peternakan yang diusahakan.
Bangsa sapi yang ada didunia saat ini sebenarnya merupakan produk domestikasi (penjinakan) sapi mulai jaman primitif.  Kemudian digolongkan menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama, Bos Indicus
Kelompok sapi ini berkembang baik di India yang kemudian berkembang ke daratan Asia Tenggara (salah satunya, Indonesia), Afrika, Amerika dan Australia.  Disebut juga sapi ‘Zebu’ (berponok), dengan salah satu keturunannya di Indonesia kita kenal dengan nama Peranakan Ongole dan Brahman, di Amerika dikenal dengan sebutan American Brahman.
Kelompok kedua, Bos Taurus
Menurunkan kelompok sapi perang dan potong di daratan Eropa, belakangan menyebar ke Amerika, Australia dan Selandia Baru.  Indonesia juga turut mencoba mengembangkannya.  Jenis-jenisnya antara lain : Aberdeen Angus, Hereford, Shorthorn, Charolais, Simmental dan Limousine.

Kelompok ketiga, Bos Sondaicus (Bos Bibos)
Merupakan kelompok yang berkembang di Indonesia, yang merupakan keturunan banteng.  Jenisnya antara lain : Sapi Jawa, Sapi Sumatera, Sapi Bali dan sapi-sapi lokal lainnya.
Penilaian Bibit
Pemilihan bibit merupakan langkah awal usaha pengembangan ternak sapi potong.  Sapi bakalan yang baik, akan memberi hasil usaha yang menguntungkan, melalui pertumbuhan bobot badan perhari yang cepat.
Faktor-faktor yang menentukan pemilihan bibit didasarkan pada pengalaman dan kecakapan yang baik dengan ditunjang tiga kriteria berikut.
Bangsa dan Sifat Genetis
Setiap peternak tentunya memiliki suatu acuan untuk melakukan pemilihan bibit.  Apakan dia lebih memilih menggemukkan sapi Lokal atau Impor.  Hal ini didasarkan pada kemampuan genetis sapi yang berbeda satu sama lain, baik mengenai produktivitas maupun daya adaptasi pada kondisi lingkungan (antara lain iklim dan pakan).  Pangkal kemampuan adaptasi terhadap lingkungan didasari pada sifat genetis yang diturunkan oleh tetua.  Sehingga sapi harus benatr-benar cermat dipilih sesuai dengan tujuan pemeliharaan dan kondisi lingkungan setempat.
Bentuk Luar
Selain faktor genetis, bentuk luar (performance) sapi juga harus diperhatikan.  Hal-hal tersebut antara lain :
  • Ukuran panjang badan dan dalam
  • Bentuk tubuh segiempat
  • Paha sampai pergelangan kaki berisi penuh
  • Dada lebar dan dalam serta menonjol
  • Kaki besar, pendek dan kokoh
Kesehatan
Setelah faktor genetis dan performance yang mantap, ternak sapi yang akan digemukkan harus menunjukkan kondisi sehat.  Sehingga memiliki kemampuan produksi yang tinggi.
Ciri-ciri Sapi Bakalan

  • Bentuk tubuh persegi panjang atau bulat silinder.  Tubuh bagian depan, tengah dan belakang tumbuh sama kuat (simetris).  Garis tubuh bawah dan atas sejajar.
  • Kulit tebal.
  • Daging berotot kuat dan padat sehingga terlihat bulat berisi.
  • Cepat dewasa
  • Makanan sebagian besar diubah menjadi daging dan lemak
  • Syarat pakan dan perawatan harus intensif.
Perkandangan

Kandang merupakan lokasi ternak melakukan aktivitas produksi, korelasinya adalah peternak harus menyediakan lokasi kandang yang nyaman dan memberi ras aman sehingga ternak akan mengeluarkan potensi maksimal untuk menghasilkan produksi.  Kandang didirikan untuk memberi rasa aman dan nyaman serta menghindarkan ternak dari gangguan luar yang merugikan, seperti : sengatan matahari, terpaan angin, kedinginan dan kehujanan.

Konstruksi

Kandang ideal memiliki konstruksi yang dibangun sesuai hokum alam setempat.  Konstruksi harus kuat, mudah dibersihkan dan memiliki sirkulasi udara sempurna sehingga memberi keamanan dan kenyamanan ternak.
Arah Kandang
Kandang dengan sistem kelompok, diusahakan membujur Utara – Selatan, sehingga setiap pagi dan sore mendapatkan sinar matahari untuk mencukupi kebutuhan ultra violet (vitamin E) dan pengeringan lantai sehingga bibit penyakit sulit untuk berkembang.
Sirkulasi Udara
Pertukaran udara yang baik akan membawa udara kotor dari dalam kandang dan memasukkan udara segar kedalam kandang.  Kebutuhan luas kandang per ekor ternak antara 2.5 – 3.0 m2(tidak termasuk tempat pakan).

Pakan

Salah satu kebutuhan terpenting dalam usaha budidaya ternak sapi potong adalah tersedianya Pakan yang baik dan kontinyu demi terpenuhinya kebutuhan nutrisi ternak.
Pakan yang diberikan kepada ternak sapi potong, umumnya terbagi dua jenis.
  1. pakan berserat, misalnya : rumput, kacang-kacangan, jerami
  2. pakan penguat, misalnya : bekatul, onggok, konsentrat jadi
Agar diperoleh hasil maksimal, maka perencanaan akan pakan harus dibuat secermat mungkin.  Hal ini disebabkan karena selain merupakan faktor menentukan dalam produktivitas ternak akan daging, pakan juga memberi sumbangan komponen terbesar bagi pembiayaan usaha.  Pakan dengan mutu terbaik dan harga yang sesuai akan memberi konstribusi positif bagi perkembangan usaha.

Manajemen Budidaya

Usaha budidaya ternak sapi potong sebenarnya bukan merupakan usaha yang sulit.  Kunci keberhasilan adalah keseriusan, keinginan untuk maju, kegigihan dan faktor-faktor penunjang lain serta kedisiplinan tenaga kerja.
Dalam hal budidaya ternak sapi potong, hal-hal yang harus diingat adalah proses usaha penggemukkan sapi potong harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan ternak akan produktivitas yang baik.  Sebagai ilustrasi :  ternak yang baru saja masuk kandang setelah bongkar di pelabuhan, segera diberikan obat cacing, vitamin A dan B kompleks serta minum.  Setelah itu dibiasakan dengan pakan berserat dan penguat.  Pemberian pakan selanjutnya dilakukan secara rutin pagi – sore – malam (bila perlu).
Kemudian hal lain yang perlu diperhatikan adalah rasa ‘sayang’ terhadap ternak yang diwujudkan dalam hal memperhatikan tingkah laku ternak, kondisi kesehatan, mencukui kebutuhan akan pakan dan minum dan hal-hal lain yang membuat ternak semakin nyaman.
Pengelolaan Integrated Farming tersebut harus bedasarkan pada filosofi“TOTAL ONE DAY CARE” yaitu usaha yang berkaitan dengan makluk hidup dan keharusan untuk melakukan perawatan dan pengawasan selama 24 jam dalam satu hari.
Staff dan Karyawan yang cakap dan memiliki rasa memiliki mendalam disamping kemampuan teknis dalam pengelolaan usaha mutlak diperlukan.  Pelatihan dan pengembangan kemampuan untuk Staff dan Karyawan harus dilakukan pada masa-masa rekruiment demi terciptanya Sumber Daya Manusia yang mumpuni kelak.
Kendala yang timbul dalam usaha ternak :
  • ketergantungan pada penyediaan sumber pakan ternak secara kontinyu (baik hijauan maupun konsentrat)
  • terbatasnya lahan untuk pengembangan usaha
  • kesulitan pembuangan hasil samping usaha (limbah) berupa kotoran ternak dan permasalahan lingkungan sekitar usaha.

INTEGRASI PERTANIAN DAN PERKEBUNAN DENGAN PETERNAKAN
PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
Hasil samping pertanian dan perkebunan yang dapat dimanfaatkan contohnya :
  1. Bahan Pangan (food)  :  Minyak Kelapa Sawit, Beras
  2. Bahan Pakan (feed) ternak ruminansia :
  1. Bungkil Kelapa Sawit (Palm Kennel Cake)
  2. Lumpur Minyak Sawit (Palm Oil Sludge)
  3. Serat Perasan Buah Sawit (Palm Press Fibre)
  4. Daun Kelapa Sawit (Palm Leaf)
  5. Tanaman Liar
  6. Ramban (Browse)
  7. Jerami Padi
  8. Bekatul/dedak
  • Kompos (organic fertilizer)  : 
    1.  Tandan Kosong (Bunch Trash)
    2. Cairan Lumpur Sawit
            Diantara ketiga bahan pakan (feed), bungkil kelapa sawit telah digunakan dan telah mulai dipasarkan sebagai bahan pakan ternak.  Komposisinya adalah : Bahan kering 89%, Protein kasar 19%, Protein tercerna 74%, serat 13%, ME 12,2M)/kg, Kalsium 0,30% dan Phosphore 0,7 %.  Sedangkan dua bahan lainnya belum banyak digunakan di Indonesia.  Lumpur sawit (palm oil sludge) belum banyak dimanfaatkan sehingga menimbulkan masalah lingkungan.   Manajemen pengolahan yang dilakukan akan memberi manfaat ganda yaitu menambah persediaan bahan pakan dan mengurangi polusi.  Bahan kering lumpur sawit mengandung protein kasar 13,3% setara dengan dedak halus (13,0%) dan kandungan energinya (TDN = 74%), lebih tinggi dibanding dedak halus (70%) sehingga lumpur sawit layak digunakan sebagai pengganti dedak halus.  Dedak padi merupakan bahan pakan yang paling banyak digunakan.   Tidak hanya pada ternak unggas dan babi, ternak sapi perah dan sapi penggemukan juga menggunakan.  Persediaannya berfluktuasi mengikuti pola panen padi dan harganya juga berfluktuasi karena banyak permintaan, harganya cenderung meningkat terus dan mutunya sering dipalsu.  Karena potensinya, lumpur sawit diharapkan dapat mengganti sebagian dedak padi dengan mutu yang lebih stabil.  Serat buah sawit mempunyai kandungan energi (TDN = 56 %) sedikit lebih unggul dibanding rumput tetapi protein kasarnya sedikit lebih rendah.  Disamping itu serat buah sawit kurang disukai ternak.  Melalui proses bioteknologi menggunakan Probiotik dan penambahan urea, protein kasarnya dapat ditingkatkan dan karena strukturnya jadi lunak maka akan lebih disukai ternak

    Perkebunan Cacao akan menghasilkan produk  :
    1. Bahan Pangan (food)  :  Biji Cacao (45%)
    2. Bahan Pakan (feed) ternak ruminansia :  Kulit Buah Cacao (55%)
    Perkebunan Kelapa Hibrida akan menghasilkan produk  :
    1. Bahan Pangan (food)  : 
      1. Santan Kelapa (Coconut Cream = UHT Aseptic)
      2. Kelapa Parut Kering (Desiccated Coconut = DCN)
      3. Sari Kelapa (Nata de Coco)
      4. Minyak Kelapa (Crude Coconut Oil = CNO)
      5. Gula Kelapa Murni (Pure Coconut Sugar)
      1. Bahan Pakan (feed) ternak ruminansia :  Bungkil Kelapa (Coconut Cake)
      2. Keperluan Industri/rumah tangga :
      1. Arang Tempurung Kelapa (Coconut Shell Charcoal)
      2. Bubuk Tempurung Kelapa (Coconut Shell Powder)
      3. Sabut Kelapa
    1. Keperluan usaha Peternakan :  Serbuk Sabut Kelapa (sebagai alas kandang/bedding)
    2. Peternakan Sapi Potong akan menghasilkan produk  :
      1. Bahan Pangan (food)  : 
      Daging (meat)
      1. Pendukung Usaha Agribisnis  :  Kompos (organic fertilizer)

      PELAKSANAAN INTEGRASI USAHA
      Langkah dan upaya yang harus  dilakukan
      1. Mengidentifikasi potensi, kendala dan sumber daya yang ada untuk mengembangkan usaha perkebunan kearah Integrated Farming System.
      2. Perakitan tehnologi aplikatip yang sesuai dengan agroekosistem.
      3. “ On – Farm Research “ untuk mencoba rakitan tehnologi tersebut.
      4. Supervisi dan evaluasi seluruh kegiatan untuk mendapatkan “ pattern “ atau system.
      5. Test – farm untuk meyakinkan bahwa pattern atau system telah teruji.
      Kegiatan on Farm Research dan Test Farm yang harus dilakukan
      1. Upaya pemberdayaan hasil samping perkebunan untuk dijadikan bahan baku pakan ternak dan kompos.
      2. Upaya pemberdayaan hasil samping peternakan untuk dijadikan kompos

      Arah Integrated Farming System yang harus dilakukan

      Arah Integrated Farming System yang harus dilakukan adalah menuju ke konsep LEISA (Low  External Input Sustainable Agriculture) yaitu konsep perkebunan yang terpadu, berkesinambungan, menekan penggunaan input Ekternal dan memaksimalkan penggunaan input internal sehingga akan diperoleh suatu system usaha perkebunan yang efisien dan berdaya saing global.

      Perlahan tapi pasti di integrasi pertanian, perkebunan dan peternakan akan  menuju ke konsep LEISA dengan tujuan :
      • Suatu usaha perkebunan yang terpadu
      • Suatu usaha perkebunan ramah lingkungan
      • Suatu usaha perkebunan yang tanpa limbah
      • Suatu usaha perkebunan berbasis lokal sehingga tahan menghadapi krisis
      • Suatu usaha perkebunan menghasilkan produk organik yang berkualitas baik dan mempunyai harga lebih baik
      • Suatu usaha perkebunan yang mempunyai diversifikasi berbagai produk; sehingga mengurangi resiko kegagalan usaha
      • Suatu usaha perkebunan berdaya saing global karena sangat efisien

      KEMUNGKINAN  DIBUAT  AGROINDUSTRI PAKAN

      Ibarat pepatah “ sehelai pohon murbei, ditangan orang bijak, akan menjadi sutera, sehelai bulu domba, ditangan orang bijak akan menjadi pakaian raja “.  Melihat potensi hasil  samping perkebunan di Kalimantan Timur, sudah saatnya kita memanfaatkan kebijakan kita, sehingga sumberdaya yang melimpah tersebut dapat kita  ubah   menjadi   Emas   merah   (daging),  Emas  putih (susu) dan Emas hitam (kompos), sehingga dari kegiatan tersebut dapat kita ciptakan kebutuhan baru, kesempatan dan peluang baru, pengembangan tehnologi baru dan menciptakan modal dari industri perkebunan yang fenomental dan berdaya saing global.  Akan lebih cocok kalau dari hasil samping tersebut diolah menjadi pakan ternak lengkap (complete feed) yaitu pakan ternak lengkap mengandung pakan berserat dan pakan konsentrat dalam bentuk pellet (butiran).  Dengan complete feed dalam bentuk pellet akan memudahkan pemberian, pengangkutan, penyimpanan, disamping juga berfungsi sebagai pengawetan.
      Complete feed juga akan membantu pemecahan masalah nasional yaitu penyediaan pakan bermutu dengan harga terjangkau, mudah pemberiannya dan sudah dalam awetan sehingga tahan lama disimpan, sehingga diharapkan dengan pemakaian complete feed, populasi ternak Ruminansia dapat ditingkatkan.
      Seperti kita ketahui, petani dengan 2 ekor sapi, sudah kesulitan mendapatkan rumput terutama musim kemarau.  Dengan complete feed, mereka dapat meningkatkan jumlah sapi yang dipelihara tanpa harus susah payah mengarit ( merumput ) dan waktu bisa digunakan untuk yang lain yang lebih produktif.   Demikian juga pada peternakan sapi perah dan penggemukan, mereka dapat meningkatkan populasi sapinya sehingga usaha mereka lebih efisien.

      AGROECOTOURISM
                  Usaha pertanian, perkebunan dan peternakan yang terintegrasi dan tertata secara estetis dapat dijadikan sarana rekreasi dengan mengedepankan konsep penyegaran (refreshing) dan belanja (shopping).  Refreshing dapat dilakukan dengan menjadikan usaha tersebut sebagai taman rekreasi yang tertata indah, sedangkan konsep belanja dapat dilakukan dengan penambahan penananaman tanaman buah-buahan dan sayuran organik sehingga pengunjung dapat berbelanja sehat dengan membeli dan mengkonsumsi produk oganik.
      Usaha pemaduan komponen usaha pertanian, perkebunan dan peternakan juga dapat menginspirasi usaha sejenis sehingga pola peningkatan jaringan dan nilai-nilai konsultatif dapat dikembangkan.

      Tidak ada komentar:

      Poskan Komentar